Kamis, 16 Agustus 2012

BERAT SEBUAH DOA


Seorang wanita miskin terlihat sangat putus asa, ia berjalan menuju sebuah toko bahan makanan. Dia mendatangi pemilik toko dengan merendahkan diri dan meminta agar ia dapat memperoleh sedikit kebutuhannya. Wanita itu menjelaskan bahwa suaminya sedang terbaring sakit dan tidak dapat bekerja, sedangkan mereka memiliki tujuh orang anak yang sedang kelaparan menunggu makanan.

Pemilik toko, memandang wanita itu dan meminta agar ia pergi meninggalkan tokonya. Mengingat kebutuhan keluarganya, wanita itu mengiba, "Tolonglah, Pak! Saya janji akan membayarnya sesegera mungkin. Tolong, saya mengiba kebaikan anda untuk anak-anak saya yang lapar."

Pemilik toko mengatakan bahwa ia tidak dapat memberikan hutang untuk barang-barang toko kepadanya.

Tak jauh dari situ, seorang pembeli lain, yaitu seorang pria yang terkenal di desa sebagai dermawan yang banyak membantu mereka yang sedang dalam kesulitan, mengikuti percakapan antara wanita itu dan pemilik toko. Ia lalu menghampiri sang pemilik toko dan berkata padanya bahwa ia akan membayar barang-barang yang dibutuhkan wanita miskin itu untuk keluarganya.

Pemilik toko berkata dengan agak kesal, "Apakah kamu punya daftar belanja?"

Wanita miskin itu menjawab, "Ya, saya punya."

"Baiklah," kata pemilik toko dengan suara sedang, "Taruh daftar belanjamu di atas timbangan dan seberat apapun daftar itu akan saya berikan sejumlah barang yang kau inginkan."

Wanita miskin itu termenung sesaat, lalu ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan kertas dari dalamnya dan menuliskan sesuatu di kertas itu.
Kemudian ia meletakkan kertas tersebut dengan hati-hati di atas timbangan sambil terus menunduk. Mata pemilik toko dan pria dermawan itu terbelalak terkejut melihat timbangan kertas turun dan tetap turun.

Melihat hal itu pemilik toko berkata dalam hati, "Aku tidak dapat mempercayainya." Lalu ia mulai menaruh barang-barang ke sisi yang satunya lagi. Timbangan belum setimbang sehingga ia terus dan terus mengisi timbangan dengan barang-barang sampai tidak muat apa-apa lagi. Pemilik toko berdiri terpaku dengan heran. Akhirnya, ia mengambil lembaran kertas itu dari timbangan dan menatapnya penuh keheranan. Kertas itu bukanlah sebuah daftar belanja, namun sebuah doa yang berbunyi:

"Ya Tuhan, Engkau mengetahui kebutuhanku dan aku menyerahkan ini semua di Tangan-Mu."

Pemilik toko mengemasi barang-barang ke dalam kantung kemudian menyerahkannya kepada wanita itu. Wanita miskin itu mengucapkan terima kasih dan meninggalkan toko. Lalu pria dermawan itu mengambil beberapa lembar uang dari dompet dan memberikannya kepada pemilik toko sambil berkata, "Ini membayar barang-barang itu."

Beberapa saat setelah itu, pemilik toko mendapati ternyata timbangannya memang, namun... hanya Tuhan yang tahu berat sebuah Doa. 

PENJUAL IKAN DAN PAPAN PENGUMUMAN

Seseorang mulai berjualan ikan segar di pasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan: "DI SINI JUAL IKAN SEGAR."

Tidak lama kemudian datang seorang pengunjung yang menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tuliskan kata 'DI SINI'? Bukankah orang sudah tahu kalau kau berjualan di sini, bukan di sana?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'DI SINI' dan tinggallah "JUAL IKAN SEGAR".

Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau pakai 'SEGAR'? Bukankah semua orang sudah tahu kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'SEGAR' dan tinggallah "JUAL IKAN".

Tidak lama kemudian datang pengunjung ketiga yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tulis kata 'JUAL'? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau ikan ini dijual, bukan dipamerkan?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata 'JUAL' dan tinggallah "IKAN".

Tidak lama kemudian datang pengunjung keempat yang juga menanyakan tulisannya, "Mengapa kau tulis kata 'IKAN'? Bukankah semua orang sudah tahu
kalau ini ikan, bukan daging?"

"Benar juga," pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.

Pojok Renungan: Bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa.

TATTO GAMBAR SINGA

Suatu ketika ada seorang lelaki yang menginginkan tatto gambar singa di punggungnya. Ia lalu pergi ke tukang tatto yang paling hebat, dan mengemukakan maksudnya. Ia lalu memilih sebuah gambar singa yang tampak sangat gagah.

Kemudian tukang tatto itu mulai bekerja. Tetapi segera setelah merasakan beberapa tusukan jarum tatto, lelaki itu mengerang kesakitan, "Engkau mau membunuhku?! Bagian mana yang sedang kau gambar?"

"Aku baru mengerjakan bagian ekornya," jawab tukang tatto itu.

"Kalau begitu, hapus saja ekornya. Biarlah gambar singa itu tanpa ekor," teriak lelaki itu.

Kemudian tukang tatto itu bekerja lagi. Dan lagi-lagi si lelaki itu tak tahan merasakan sakitnya tusukan jarum. Ia lalu menjerit, "Wadow, sakit sekali. Bagian mana yang sedang kau gambar kali ini?"

"Kali ini," jawab tukang tatto itu, "adalah bagian telinga singa."

"Tinggalkan saja bagian itu. Biarkan gambar singaku telinga," katanya sambil terengah-engah.

Maka, tukang tatto itu mencoba lagi dengan hati-hati. Tetapi segera saja, setelah jarum menusuk kulitnya, lelaki itu menggeliat lagi. "Sekarang katakan, bagian mana yang sedang buat?"

"Ini adalah perut singa," kata tukang tatto itu dengan putus asa.

"Aku tak mau singa dengan perut!" teriak lelaki itu.

Dengan perasaan jengkel tukang tatto itu berdiri sebentar, lalu membuang jarum dan berteriak, "Seekor singa tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa perut? Siapa yang bisa menggambar singa seperti itu? Bahkan Tuhan pun tidak!"

Pojok Renungan: Kita takkan pernah jadi singa, si raja rimba, bila takut pada panasnya gurun pasir. Kita takkan pernah jadi elang, si raja langit, bila gentar pada gamangnya ketinggian. Maka kita pun takkan menjadi apa-apa bila takut pada apa-apa
Yanagi.hime is offline Add to Yanagi.hime's Reputation Report Post Report Post  

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More